Kamis, 13 November 2014

LAPORAN KKL CANGAR
Dosen pengampu:
Ainun Nikmati Laily M.si
Sulisetijono M.pd






Disusun oleh:
Putri Mardiana(13620049)
Ihsan Tolabi(13620053)
Ilham Siti Rukhana (13620060)
Shadikhah Munawarah Fauziah (13620069)
Muzid shauqil Umam (13620082)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG

2014DAFTAR ISI







Daftar Isi………………………………………………………………………….                1
Kata Pengantar……………………………………………………………………..             2
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang…………………………………………………………………              3
1.2  Rumusan Masalah………………………………………………………………             4
1.3  Tujuan…………………………………………………………………………..             4
1.4  Manfaat…………………………………………………………………………             4
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Jamur (Fungi)……………………………………………………………….…..             5
2.2 Lumut Kerak (Lichen)……………………………………………….………….            6
2.3 Lumut (Bryophyta)……………………………………………………….……..            9
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat………………………………………………………………           12
3.2 Alat dan Bahan………………………………………………………………….                        12
3.3 Langkah Kerja…………………………………………………………………...           12
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Jamur (Fungi)……………………………………………………………………            13
4.2 Lumut Kerak (Lichen)…………………………………………………………..            15
4.3 Lumut (Bryophyta)……………………………………………………………...            18
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………           21
5.2 Saran……………………………………………………………………………..           21
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….           22









KATA PENGANTAR
Ba’da tahmid wal hamdalah, wa shalawat lirosulillah. Dengan penuh rasa syukur, akhirnya laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mengenai studi keanekaragaman Lumut, Lichen, dan Fungi di Taman Hutan Raya R. Soeryo ini berhasil dilaksanakan.
Tak lupa ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen pengampu mata kuliah Botani Tumbuhan Tidak Berpembuluh, Bapak Drs. Sulisetijono, M. Si dan Ibu Ainun Nikmati Laily, M. Si yang telah mendampingi kami selama KKL beserta asisten praktikum, teman-teman sekelompok khususnya, dan seluruh anggota Jurusan Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2013, serta seluruh pihak yang telah membantu proses penulisan laporan ini.
Laporan ini berisi berisi sedikit keterangan morfologis dan anatomis dari spesies Lumut, Lichen, dan Fungi yang berhasil kami temukan dari koleksi TAHURA R. Soeryo. Kami sadar dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu kami selaku penulis membuka kesempatan bagi pembaca untuk memberikan kritik, saran serta opini yang konstruktif demi kebaikan laporan ini. Semoga laporan kami bermanfaat bagi pembaca.








                                                                                                                            Penulis
Malang, 13 November 2014







BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan sebutan Jambrut khatulistiwa, oleh sebab itu tidak mengherankan jika Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupuan fauna.Beberapa keanekaragam flora yang di miliki Indonesia adalah keanekaragaman Fungi, Lichens, dan Lumutnya. Perkiraan menurut Hawksworth (1991), terdapat 1.500.000 spesies fungi di dunia dan  200.000 spesies dari 1.500.000 spesies tersebut terdapat di Indonesia (Gandjar,2006).
Tumbuhan lumut (Bryophyta) merupakan golongan tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih tinggi daripada Thallophyta umumnya mempunyai warna yang benar-benar hijau, karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang mengandung klorofil-a dan b. Lichenes adalah suatu organisme yang merupakan suatu bentuk simbiosis erat dari fungi sebagai mycobion dan alga hijau yang berupa photobion. Fungi atau jamur banyak terdapat di daerah yang lembab. Jamur apabila dibandingkan dengan tumbuhan yang lain, tumbuhan ini tubuh buahnya berupa talus, menghasilkan spora, dinding selnya mengandung kitin dan tidak memilki flagel dalam daur hidupnya. Fungi, Lichens dan Lumut dapat ditemukan di tempat tempat yang masih terjaga kealamianya seperti hutan mengingat peranannya sebagai indikator lingkungan.
Salah satu tempat yang mempunyai memiliki spesies-spesies tersebut dengan keanekaragaman yang cukup adalah Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo Cangar. Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo Cangar adalah kawasan hutan yang terletak di Kota Batu Jawa Timur pada ketinggian kurang lebih 1600 m di atas permukaan laut,  merupakan kawasan konservasi dibawah naungan Balai Taman Hutan Raya milik Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur terutama di wilayah Batu yang masuk kawasan Cagar Alam.
Keadaan Taman Hutan Raya dengan berbagai macam spesiesnya, dirasa perlu untuk dilakukan pengamatan secara langsung untuk menambah wawasan mahasiswa Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengenai habitat fungi lichen dan lumut.



1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam Kuliah Kerja Lapangan ini adalah:
1.      Bagaimana keanekaragaman Fungi, Lichens dan Lumut yang berhabitat di Taman Hutan Raya R. Soerjo Dusun Cangar Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur?
1.        Tujuan diadakanya Kuliah Kerja Lapangan ini adalah studi lapangan keanekaragaman Fungi, Lichens dan Lumut yang berhabitat di Taman Hutan Raya R. Soerjo Dusun Cangar Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.
1.4 Manfaat
Manfaat dari diadakannya Kuliah Kerja Lapangan ini antara lain ;
a. Sebagai pelengkap dalam memenuhi perkuliahan, terutama mata kuliah botani tumbuhan tidak berpembuluh.
b. Menambah wawasan mahasiswa terutama mahasiswa biologi mengenai keanekaragaman Fungi, Lichens dan Lumut.











2.1  Jamur (Fungi)
Istilah jamur berasal dari bahasa Yunani, yaitu fungus (mushroom) yang berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Hadioetomo,1993).
Organisme yang disebut jamur bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin, tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi (Kusnadi,2003).
Jamur mempunyai dua karakter yang sangat mirip dengan tumbuhan yaitu dinding sel yang sedikit keras dan organ reproduksi yang disebut spora. Dinding sel jamur terdiri atas selulosa dan kitin sebagai komponen yang dominan. Kitin adalah polimer dari gugus amino yang lebih memiliki karakteristik seperti tubuh serangga daripada tubuh tumbuhan. Spora jamur terutama spora yang diproduksi secara seksual berbeda dari spora tumbuhan tinggi secara penampakan (bentuk) dan metode produksinya (Kusnadi,2003).
Tubuh buah suatu jenis jamur dapat berbeda dengan jenis jamur lainnya yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan tudung (pileus), tangkai (stipe), dan lamella (gills) serta cawan (volva). Adanya perbedaan ukuran, warna, serta bentuk dari pileus dan stipe merupakan ciri penting dalam melakukan identifikasi suatu jenis jamur (Kusnadi,2003).
Menurut Kusnadi (2003), beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual.
Secara alamiah jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding) dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang selanjutnya berkembang menjadi miselium (Kusnadi,2003).
Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga fase yaitu plasmogami, kariogami dan meiosis. Plasmogami merupakan proses penyatuan antara dua protoplasma yang segera diikuti oleh proses kariogami (persatuan antara dua inti). Fase meiosis menempati fase terakhir sebelum terbentuk spora. Pada fase tersebut dihasilkan masing-masing sel dengan kromosom yang bersifat haploid (Kusnadi,2003).
Mc-Kane (1996) mengatakan setiap jamur tercakup di dalam salah satu dari kategori taksonomi, dibedakan atas dasar tipe spora, morfologi hifa dan siklus seksualnya. Kelompok-kelompok ini adalah : Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes. Terkecuali untuk deuteromycetes, semua jamur menghasilkan spora seksual yang spesifik. (Kusnadi,2003).
Fungi hidup sebagai saprofit atau parasit, ada yang dalam air, tetapi lebih banyak yang hidup didaratan. Sedangkan di dalam laut jarang sekali didapatkan. Kebanyakan jamur yang hidup saprofit dapat dipelihara pada substrat buatan (Waluyo, 2004).
Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycotina atau Basidiomycotina (mikobion) dengan Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion). Tumbuhan ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Lumut kerak bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu. Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan bisa hidup kembali (Indah, 2009).
Lichenes (lumut kerak) merupakan gabungan dua tanaman yang hidup bersama (bersimbiosis), yaitu antara fungi (jamur) dan yang berwarna hijau disebut ganggang (alga) sehingga secara morfologi dan fisiologi merupakan suatu kesatuan. Ganggang membuat makanan untuk jamur. Sebab utama hijau yang dimilikinya memungkinkan ganggang melakukan proses fotosintesis, memasak makanan. Sementara itu, tugas jamur adalah member perlindungan terhadap kekeringan. Lichenes adalah  tanaman yang hebat. Berbeda dari lumut biasa yang tumbuh di tempat lembap, lichenes bias tumbuh di tempat-tempat yang sulit, tempat yang sangat dingin dan kering. Lichenes ini hidup secara epifit pada pohon-pohonan tetapi dapat juga hidup di atas tanah terutama di daerah sekitar kutub utara, di atas batu cadas, di tepi pantai dan juga gunung-gunung yang tinggi (Tjitrosoepomo, 1989).
Tubuh  lichenes  dinamakan  thalus  yang  secara  vegetative  mempunyai kemiripan dengan  alga dan  jamur. Thalus ini  berwarna abu-abu  atau  abu-abu kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah dengan  habitat yang bervariasi. Bagian  tubuh yang  memanjang  secara  seluler dinamakan  hifa. Hifa  merupakan organ vegetative dari thalus atau miselium yang biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada  pada bagian  permukaan dari  thalus (Hawksworth, 1984).
Menurut bentuk pertumbuhannya, lumut kerak terbagi menjadi tiga tipe yaitu (Indah, 2009:42) :
a.       Krustos, jika talus terbentuk seperti kerak (kulit keras), berukuran kecil, datar dan tipis. melekat erat pada substratnya (batu, kulit pohon atau tanah). Contohnya :Physcia,Graphis scipta, Haematomma puniceum, Acarospora atau Pleopsidium.Lichen krustos yang tumbuh terbenam di dalam batu hanya bagian tubuh buahnyayang berada di permukaan yang biasanya disebut endolitik.
b.      Folios, jika talus berbentuk seperti daun. Thallusnya datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian permukaan atas dan bawah berbeda. Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan rhizines. Rhizines ini juga berfungsi sebagai alat untuk  mengabsorbsi makanan. Contohnya : Umbillicaria, Parmelia, Xantoria, Physcia, Peltigera.
c.       Frutikos, jika talus tegak seperti semak atau menggac ntung seperti jumbai atau pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daun-daunan atau cabang pohon. Contohnya : Usnea longissima.
d.      Squalumose, Lichen ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut squamulus yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dan sering memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia. Contoh : Psora pseudorusselli, Cladonia carneola.
Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu (Indah, 2009 : 44) :
1.      Secara Vegetatif
a.       Fragmentasi : Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan fragmen. Pada beberapa fruticose, bagian tubuh yang lepas tadi, dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling produktif untuk peningkatan jumlah individu.
b.      Isidia : Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika kondisinya sesuai.
c.       Soredia : Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah dan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium tersebar seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru. Lichenes yang baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.
2.      Secara Seksual
Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.
Lichenes sangat sulit untuk diklasifikasikan karena merupakan gabungan dari alga dan fungi serta sejarah perkembangan yang berbeda. Para ahli klasifikasitaksonomi seperti Bessey (1950), Martin (1950) dan Alexopoulus (1956), berpendapat bahwa lichenes dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam kelompok jamur sebenarnya. Bessey meletakkannya dalam ordo Leocanorales dari Ascomycetes. Smith (1955) menganjurkan agar lichenes dikelompokkan dalam kelompok yang terpisah yang berbeda dari alga dan fungi. Lichenes memiliki klasifikasi yang bervariasi dan dasar dasar klasifikasinya secara umum adalah sebagai berikut (Indah, 2009 : 44):
1. Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya :
A. Ascolichens.
a.       Cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka tubuh buah yang dihasilkan berupa peritesium. Contoh : Dermatocarpondan Verrucaria.
b.      Cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes. Lichenes membentuk tubuh buah berupa apothecium yang berumur panjang. Contoh : Usnea dan Parmelia.
Dalam Klas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari famili:Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus dari Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa dan lain-lain. Dari Cholophyceae adalah : Protococcus, Trentopohlia, Cladophora dll.
B. Basidiolichenes
Berasal dari jamur Basidiomycetes dan alga Mycophyceae. Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae, dengan tiga genus Cora, Corella dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filamen yaitu : Scytonema dan tidak berbentuk filamen yaitu Chrococcus.
C. Lichen Imperfect
Deutromycetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon, Normandia, dll.
2. Berdasarkan alga yang menyusun thalus :
A. Homoimerus
Sel alga dan hifa jamur tersebar merat pada thallus. Komponen alga mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam Mycophyceae.
B. Heteromerous
Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen jamur menyebabkan terbentuknya thallus, alga tidak berupa gelatin Chlorophyceae. Contoh : Parmelia.
2.3 Lumut (Bryophyta)
Lumut Merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan mempunyai tingkat perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya tumbuhan lumut menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga dataran tinggi (Birsyam, 1992). Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang menghasilkan klorofil a dan b. lumut bersifat autotrof (Purawijaya, 2013). Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus dan bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa (Birsyam, 1992).
Batang dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral; belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral (Birsyam, 1992).
Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri dari: vaginula, seta, apofisis, kaliptra, kolumela. Sporofit tumbuh pada gametofit menyerupai daun. Gametofit berbentuk seperti daun dan di bagian bawahnya terdapat rizoid yang berfungsi seperti akar. Jika sporofit tidak memproduksi spora, gametofit akan membentuk anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual (Yulianto, 1992).
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit. Ada dua macam gametangium yaitu arkegonium (gametangium betina) bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, yang sempit disebut leher dan anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Jika anteridium dan arkegonium dalam satu individu tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis). Jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau arkegonium saja tumbuhan lumut disebut berumah dua (diesis) (Yulianto, 1992).
Lumut yang sudah teridentifikasi mempunyai jumlah sekitar 16 ribu spesies dan telah dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu: lumut hati, lumut tanduk dan lumut daun (Yulianto, 1992).
1.      Lumut Hati (Hepaticopsida)
Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan lunularia.
2.      Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)
Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
3.      Lumut Daun (Bryopsida)
Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh: Spagnum fibriatum, Spagnum squarosum.
Manfaat lumut bagi kehidupan antara lain: Marchantia polymorpha untuk mengobati penyakit hepatitis, Spagnum sebagai pembalut atau pengganti kapass, jika Spagnum ditambahkan ke tanah dapat menyerap air dan menjaga kelembaban tanah (Yulianto, 1992).



















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1    Waktu dan Tempat
Studi lapangan ini dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 09 November 2014 yang bertempat di daerah kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.

3.2    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan sebagai penunjang dalam studi lapangan ini adalah:
1.    Alat tulis
2.    Alat dokumentasi (kamera handphone)
3.    Kantong plastik
4.    Buku identifikasi

3.3    Cara Kerja
Langkah-langlah kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dicari lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan menusuri jalan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.
2. Diambil gambar lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan kamera digital pada setiap spesies yang ditemukan.
3. Dimasukkan hasil temuan ke dalam kantong plastik (cuma beberapa saja, demi menjaga kelestarian).
4. Setelah sampai di laboratorium, dilakukan pengamatan dan dicatat ciri-cirinya secara kelompok.
5. Dibedakan berdasarkan spesies masing-masing, diklasifikasi kemudian dideskripsikan.
6. Dibagi setiap kelompok untuk dibahas di dalam laporan hasil studi lapangan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Jamur
4.1.1 Gambar
Hasil Pengamatan
Gambar dari Literatur

4
 

2
 
(Pujarebios, 2013)
Keterangan:
1.         1. Thallus
2.         2. Alat perekat/miselium
3.         3. Himenofora
4.         4. Basidiocarp
5.         5. Lingkaran tahun


Klasifikasi ilmiah dari Ganoderma lucidum adalah sebagai berikut (Suryo, 2002):
Kingdom   :    Fungi
       Divisi       :    Basidiomycota
            Class          :    Agaricomycetes
Ordo          :    Polyporales
                                    Family       :    Ganodermataceae
Genus        :    Ganoderma
                                                            Species      :    Ganoderma sp.


4.4.2 Pembahasan
Jamur adalah organisme yang selnya berinti, dapat membentuk spora, tidak berklorofil, dan berupa benang-benang tunggal atau benang-benang yang bercabang dengan dinding dari selulosa atau khitin atau keduanya (Suarnadwipa, 2008).
Jenis-jenis Ganoderma selain Ganoderma Lusidium yaitu Ganoderma Applanatum ( jamur perang ), jamur ini tidak mengandung tangkai dan tumbuh hampir diseluruh belahan dunia bahkan pernah mencatat rekor yaitu berat bisa mencapai 12 poun; Ganoderma sinense      ( jamur ungu ), bentuknya hampir sama dengan ganoderma lainnya, hanya saja berwarna ungu; Ganoderma Oregonense ( jamur perang tua ); Ganoderma Tsugae, berwarna merah agak lebih tua (Darmono,  2000).
            4.4.2.1 Ciri Morfologi
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa Ganoderma Lusidium tumbuh di batang kayu sehingga termasuk jamur kayu dan warna pada jamur ini yaitu berwarna coklat.
Jamur kayu (Ganoderma sp.) disebut juga dengan nama jamur Lingshi yang memilki bentuk seperti kipas, kerak, papan, atau payung. Di dalam famili Polyporaceae, dijumpai jamur dari genus Poria, Polyporus, Fomex, Lenzites, dacdalia, Irpex, dan Ganoderma. Badan buah keras, berkayu, berasa pahit, dan tidak dapat dibuat sebagai bahan makanan, biasanya hanya digunakan sebagai bahan baku obat. Jamur Lingshi hidup pada pohon yang masih hidup, selain yang sudah mati.Sifat jamur adalah kosmopolitan, yaitu menyerang semua jenis pohon berkayu.Penyebaran pertumbuhan sampai daerah tropik dan subtropik (Hendritomo, 2010).
Daging badan buah (pulp) elastis dan berpori.Basidium berbentuk subglobular dengan 4 sterigma, sedangkan basidioporanya berwarna cokelat kekuningan dan berbentuk ovoid.Budidaya jamur Lingshi dapat dilakukan pada ketinggian tempat 400-600 m pal, bahkan pada ketinggian 1000 m pal masih dapat tumbuh dengan baik.Suhu pertumbuhan yang diperlukan adalah 15-28o C dengan kelembapan 80-95% (Hendritomo, 2010).
            4.4.2.2 Reproduksi
Reproduksi dilakukan secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan dibentuknya spora (basidiospora). Reproduksi seksual dilakukan secara somatogami (persatuan dua sel talus yang tidak mengalami diferensiasi) (Birsyam, 1992).
4.4.2.3 Habitat
Habitat Ganoderma memerlukan lingkungan yang panas dan lembap, suhu antara 26 – 27 derajat Celsius untuk tumbuh. Oleh karena itu, banyak Ganoderma yang tumbuh liar di hutan. Sebenarnya Ganoderma mudah ditemui di sekitar lingkungan kita, Ganoderma biasa dilihat tumbuh pada pohon yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Biasanya paling banyak ditemui tumbuh pada tanaman angsana ( Pterocarpus Indica ) atau pohon kenari ( Canarium Commune ). Hidupnya pada batang pohon bersifat parasit sehingga jika jamur ini tumbuh pada batang pohon yang masih hidup maka disekitar jamur tersebut batang pohon tersebut akan lapuk (Darmono, 2000).
4.4.2.4 Manfaat
Manfaat Ganoderma lucidum sebagai bahan obat yang sering digunakan sebagai campuran minuman atau dibuat dalam bentuk kapsul. Kandungan senyawa yang terdapat dalam jamur kayu berkhasiat meningkatkan kesehatan dan kebugaran konsumennya, serta bisa juga sebagai pencegah kanker dan mencuci bahan-bahan beracun yang ada di dalam tubuh (Hidayat, 1995).
4.2 Lichens
            4.2.1 Gambar
Hasil Pengamatan
Gambar dari Literatur

2
 

1
 

2
 
(Hany, 2012)
Keterangan:
  1. Substrat
  2. Lichens

 Klasifikasi ( Suhono, 2012):
Domain     : Eukarya
Kingdom   : Fungi
Divisio      : Lichenes
Classis       : Ascolichenes
Ordo          : Lecanorales
Family       : Usneaceae
Genus        : Usnea
Spesies      : Usnea sp
            4.2.2 Pembahasan
            4.2.2.1 Morfologi
            Pengamatan yang dilakukan didapati bahwa tubuhnya berwarna hijau keabu-abuan, menggantung pada substrat, bentuknya seperti rambut. Menurut Birsyam (1992)  Usnea sering disebut kayu angin.Tubuhnya tegak atau menggantung mirip perdu. Tumbuh menempel pada substrat pada suatu cakram pelekat yang berasal dari lapisan teras.  Menyerupai rambut abu-abu atau kehijauan. Hal ini kadang-kadang disebut umum sebagai Beard Man Tua, Beard Lichen, atau Treemoss.  Usnea terlihat sangat mirip dengan lumut Spanyol, begitu banyak sehingga nama latin tanaman terakhir itu berasal dari itu (Tillandsia usneoides, yang 'Usnea seperti Tillandsia').
            4.2.2.2 Perkembangbiakan
Perkembangbiakan Usnea sp dilakukan dengan dua cara, yaitu secara seksual dan aseksual. Menurut Prawirohartono (1989):
a.       Aseksual/vegetatif
·             Fragmentasi
Secara aseksual dilakukan dengan cara fragmentasi, yaitu dengan membentuk potongan lumut kerak ( soredium) , yang soredium itu akan terlepas dari induknya untuk segera mandiri hiidup. Apabila jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru.
  Membentuk soredia
Dapat juga dilakukan dengan membuat struktur khusus yang disebut soredia, yaitu sel-sel alga yang terbungkus oleh hifa, terdapat pada permukaan talus Lichenes, warnanya putih seperti tepung. Sel-sel alga ini dapat terlepas, jika jatuh pada tempat yang cocok, maka akan tumbuh menjadi Lichenes baru.
b.      Seksual/generatif
Adapun perkembangbiakan jamur dan alga secara seksual dilakukan sendiri-sendiri. Jamur dapat membentuk askokarp atau basidiokarp yang mengandung spora. Jika sporanya masak akan pecah dan terlepas kemudian dibawa angin. Jika jatuh di tempat yang cocok dan bertemu dengan alga, maka akan terbentuk Lichenes.
            4.2.2.3 Habitat
Usnea sp Hidup bergelantung di substrat. Seperti pernyataan Campbell (2003) Usnea sp hidup bergelantung di udara, menempel pada pohon-pohon di pegunungan, tidak bergantung pada dataran tinggi,tempat hidupnya mulai dari permukaan laut oleh karena itu Lichen dapat ditemukan mulai dari datarn rendah sampai pada dataran tinggi, Septiana (2011) menambahkan bahwa Lichen tumbuh di batang pohon, tanah, batuan, dinding atau substrat lainnya dan dalam berbagai macam kondisi lingkungan.
4.2.2.4 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari Usnea sp yaitu antara lain yaitu Usnea menghasilkan antibiotika asam usnin, berguna untuk melawan Tubercolosis, untuk pembuatan lakmus, dan juga dapat dikonsumsi (Birsyam, 1992).















4.3 Lumut (Bryophyta)
            4.3.1 Gambar
Hasil Pengamatan
Gambar dari Literatur
Keterangan:
Berwarna hijau

Klasifikasi Polytrichum sp. menurut Muspiroh (2010) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Kelas : Bryopsida
Bangsa : Polytricales
Suku : Polytrichaceae
Marga : Polytrichum
Spesies: Polytrichum sp.
4.3.2 Pembahasan
Kelas Bryopsida terdiri dari ordo Archidiales, Polytrichales, Fissidentales, Dicranales, Funariales, Eubryales, Isobryales, Buxbaumiales, Hyponobryales dan Tetraphidales (Eddy,1988). Polytrichales merupakan lumut yang memiliki penyebaran yang luas di dunia beberapa yang telah dikenali sebanyak 19 genus dan lebih kurang 370 spesies (Schofield, 1927).
4.3.2.1 Morfologi
Pengamatan yang dilakukan tentang lumut daun spesies Polytrichum sp. dapat dilihat secara kasat mata bagian-bagiannya yaitu bagian bawah yang menyerupai akar disebut rhizoid, bagian yang menyerupai daun disebut thalus, terdapat kapsula yang berwarna kuning kecoklatan dan tangkai tempat kapsula berada disebut seta Polytrichum sp. ini ditemui menempel pada batang pohon yang besar dengan keadaan yang cukup lembab, menggerombol sangat banyak sekali.
Menurut Setyawan (2000), menyatakan bahwa salah satu anggota kelas Bryidae yang sangat terkenal adalah genus  Polytrichum disamping Mnium. Umur Polytrichum lebih dari setahun. Kapsul spora tegak, gigi peristom sebanyak 2-64 buah, terdiri dari sel-sel utuh, tidak bergaris-garis dengan dinding-dinding menebal dan panjang. Daun kecil, dengan lamela membujur di sisi-sisinya. Susunan daun khas, merupakan bentuk adaptasi terhadap kekurangan air. Daun terdiri dari beberapa lapis sel, sel-sel lapisan atas mengandung banyak kloropil, tersusun menurut poros panjang daun dan berfungsi untuk asimilasi. Di dalamnya terdapat ruang-ruang antar sel yang berfungsi untuk menyimpan air. Pada waktu kekeringan, daun segera menempel pada batang karena adanya mekanisme kohesi, sehingga jaringan asimilasi terlindungi dari kehilangan air yang besar.
4.2.3.2 Habitat
Polytrichales termasuk divisi Bryophyta yang sering melimpah di tempat lembab, lumut ini sensitif terhadap polusi udara, dan di tempat yang mengalami polusi berat mereka sering tidak tumbuh (Setyawan, 2000).
4.3.2.3 Reproduksi
Spesies ini memiliki sel pengangkut untuk mengangkut air dan makanan, baik pada gametofit maupun sporofit. Gametofit membentuk stadium sementara yang lemah (protonema), mengandung cabang seksual tegak (gametofit berdaun). Cabang ini tumbuh menjadi individu baru setelah protonema tereduksi. Cabang seksual dibedakan menjadi daun dan batang, biasanya simetri radial. Alat kelamin dibentuk dari sel superfisial dorsal batang. Pertumbuhan sporofit terbatas, terdiri dari kaki, seta dan kapsul atau hanya kaki dan kapsul saja. Jaringan sporogen, kapsul dibentuk dari endotesium atau amfitesium embryo, kadang-kadang dikelilingi kolumela (Setyawan, 2000).
Hasil pengamatan mengenai Polytrichum sp. sesuai dengan literatur yang telah dijelaskan diatas, terutama mengenai habitat dan bagian-bagian Polytrichum sp, sedangkan untuk reproduksi dan manfaat belum diamati secara mendalam.

4.3.2.4 Manfaat
Richarclson (1981 at. Windadri dan Siti, 2005) melaporkan bahwa beberapa jenis anggota dari marga Polytrichum dimanfaatkan untuk memperindah taman di sekitar pura Saihoji di kaki Gunung Kornzan di sebelah barat Kyoto. Selain ini Polytrichum digunakan sebagai indikator terhadap kondisi asam serta memiliki mineral dan unsur hara yang kaya (Glime dan Saxene, 1991).



















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
                        Kesimpulan yang diperoleh dari Kuliah Kerja Lapangan ini adalah:
1. Berdasarkan spesies lumut, lichen, dan jamur yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman ketiga tumbuhan tersebut masih dapat dikatakan tinggi. Walaupun jumlah dan penyebaran ketiga tumbuhan tersebut tidak ditentukan secara pasti, namun berdasarkan pengamatan, jumlahnya masih dapat dikatakan banyak. Beberapa spesies yang berhasil ditemukan di Taman Hutan Rakyat antara lain dari Kingdom Fungi ada jamur jenis Ganoderma sp, dari Divisi Lichenophyta ada Usnea sp, dan dari Divisi Bryophyta ditemukan lumut daun Polytrichum sp.
5.2 Saran
Kuliah Kerja Lapangan ini, selain untuk mengetahui kondisi aktual tingkat keanekaragaman tumbuhan tingkat rendah, juga untuk mengetahui karakteristik morfologi tumbuhan-tumbuhan tersebut. Oleh karena itu, cara atau metode pengambilan dan pengukuran sampel sangat menentukan mahasiswa dalam ‘menerjemahkan’ karakteristik morfologi tumbuhan yang ditemukan. Sehingga, di KKL mendatang atau dalam penelitian-penelitian selanjutnya yang serupa, metode koleksi dan pengukuran sampel harus benar-benar objektif.












DAFTAR PUSTAKA
Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB.
Campbell. 2003. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Eddy, A. 1988. A Handbook of Malesiean Mosess Vol.1. British Museum
Hadioetomo. 1993. Cerdas Belajar Biologi. Bandung: Grafindos
Haspara. 2004. Biologi. Surakarta: Widya Duta
Hawksworth. 1984. The Lichen-Forming Fungi. Chapman and Hall Publisher
Indah, Najmi. 2009.Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah. Jember : PGRI Jember
Jati, Wijaya. 2007. Biologi. Jakarta: Balai pustaka
Kimball, J. W. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga
Kusnadi dkk. 2003. Mikrobiologi. Jakarta : JICA
Lovelles. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerak Tropik 2. Jakarta: Gramedia
Muspiroh, Novyanti. 2010. Buku Panduan Praktikum Taksonomi Tumbuhan I (Cryptogamae). Cirebon : Pusat Laboratorium IAIN Syakh Nurjati
Pelczar, Michael J. 1999. Microbiology. USA : Mc Graw Hill
Prasetyo, T.I.dkk. 2002. Struktur Morfologi dan Anatomi Bryophyta. Malang: Universitas Negeri Malang
Prawirohartono, Slamet. 1989. Biologi. Jakarta: Erlangga
Purnawijaya, Dandri Aly dkk. 2013. Biological Assessment Pertumbuhan Lumut di Candi Borobudur pada Sisi Utara dan Selatan Lorong 2. Yogyakarta: Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, Volume 7, Nomor 1
Schofield, W. B. 1927. Introduction to Bryology.  Columbia:  Departemen of Botany Unversity of British Columbi
Septiana, Eris. 2011. POTENSI LICHEN SEBAGAI SUMBER BAHAN OBAT: SUATU KAJIAN PUSTAKA PROSPECT OF LICHEN AS A MEdICINAL RESOURCE: A LITERATURE REVIEW. Bogor: Jurnal Biologi XV (1) : 1 - 5
Suhono, Budi. 2012. Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan Runjung Dan Jamur. Jakarta: Lentera Abadi
Setyawan,  Ahmad Dwi.  2000. Petunjuk Praktikum Tumbuhan Rendah I (Cryptogamae). Surakarta: UNS
Suarnadwipa, N. dan Hendra W.2008. Pengeringan jamur dengan dehumidifier. Jurnal Ilmiah Teknik Mesin CAKRAM Vol. 2 No. 1
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.
Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM PRESS
Yulianto, Suroso Adi. 1992. Pengantar Cryptogamae. Bandung: Tarsito.
Yurnaliza. 2002. Lichenes (Karakteristik, Klasifikasi Dan Kegunaan). Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara