Kelas : Biologi – B fakultas sains dan teknologi uin maliki malang
Tema : Penggunaan
biotransport dalam bidang kehidupan
Bidang Pangan : Padi Transgenik
Judul : Pengembangan Populasi
Mutan Penanda
Aktivasi I: Transformasi Padi Japonic Tropis Lokal
Sulawesi cv. Asemandi dengan bantuan Agrobacterium
tumefaciens
Padi (Oryza sativa L.) adalah salah satu
tanaman budi daya penting bagi masyarakat Indonesia dan merupakan sumber nutrisi
utama bagi 40% populasi dunia (Hiei dan Komari 2006). Padi juga merupakan salah
satu tanaman model yang ideal untuk penelitian genomik. Hal ini disebabkan
karena padi mempunyai ukuran genom yang relatif kecil dan informasi
molekulernya telah dikarakterisasi dengan baik. Di samping itu, dalam
penelitian rekayasa genetik, padi merupakan tanaman yang relatif efisien untuk
transformasi genetik (Hirochika et al, 2004). Transformasi genetik dengan bantuan
vektor Agrobacterium secara rutin telah digunakan
pada beberapa tanaman monokotil, termasuk padi. Transformasi genetik pada padi,
di samping menyediakan teknologi dan metode yang efisien untuk mengintroduksikan
gen-gen dengan sifat-sifat agronomi penting, tetapi juga dapat digunakan untuk
mempelajari fungsi dan regulasi gen
berdasarkan informasi sekuen genom padi (Roy et al. 2000). Pendekatan knockout gen
atau transposon mutagenesis (pembuatan mutan berdasarkan transposon) dapat
digunakan untuk mengungkap fungsi dari gen-gen penting pada padi (Hirochika et
al. 2004).
Keuntungan: Pembuatan
populasi mutan dapat dilakukan dengan transformasi genetik melalui Agrobacterium tumefaciens menggunakan
penanda aktivasi (activation tagging) sistem transposon Ac-Ds. Keuntungan menggunakan
sistem transformasi yang dimediasi dengan Agrobacterium
adalah mempunyai jumlah kopi yang relatif rendah dengan sedikit pengaturan
kembali jika dibandingkan dengan metode transfer DNA secara langsung seperti
penembakan partikel (Hiei dan Komari 2006). Transposisi sistem heterolog Ac-Ds ini
telah menunjukkan aktivitasnya dan potensial digunakan sebagai mutagen
penyisipan yang efektif (Greco et al. 2001). Dengan pendekatan ini elemen
enhancerdari promoter CaMV 35S dikonstruksi dalam kendaraan elemen transposon
yang bisa berpindah-pindah dalam genom padi. Elemen ini akan meningkatkan
ekspresi gen-gen tetangga di dekatnya, yang mengakibatkan fenotipe gain of
function (Tani et al.2004). Tanaman yang didapatkan dari teknik ini akan
mengandung satu gen yang ekspresinya ditingkatkan akibat tersisipi elemen
enhancer di dekat gen tersebut. Selanjutnya tanaman ini bisa diseleksi
ketahanannya terhadap penyakit atau sifat lain yang diinginkan. Dari tanaman
yang tahan atau dengan sifat yang diinginkan kemudian akan diisolasi gen yang
bertanggung jawab terhadap perubahan tersebut dengan memanfaatkan sekuen
transposon yang sudah diketahui.
Tujuan dan Manfaat: Memperoleh tanaman mutan padi
transgenik dari subspesies japonica tropis lokal yang mengandung rakitan
penanda aktivasi melalui trans-formasi genetik dengan A. Tumefaciens yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan
populasi mutan penanda aktivasi untuk mendapatkan galur-galur tahan penyakit
atau toleran terhadap cekaman abiotik.
Metode:
Padi
varietas Asemandi dan sebagai kontrol padi T309. Vektor penanda aktivasi
berdasarkan transposon yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pAc-DsATag-Bar-gosGFP (Trijatmiko et al. 2005). Sedangkan metode transformasi
yang digunakan berdasarkan pada metode Enckevort (2003). Vektor penanda aktivasi
tersebut sudah dimasukkan ke dalam A.
Tumefaciens strain Agl-1 dan siap digunakan untuk transformasi padi. Vektor
penanda aktivasi ini mengandung dua elemen. Elemen pertama, yaitu elemen Ac (activator)
yang mengkode enzim transposasedi bawah kontrol Ac promoter yang disambungkan
dengan gen gfp (green fluorescens protein) di bawah kendali promoter Gos.
Elemen kedua, yaitu elemen Ds (dissociation) berisi elemen 4x enhancer dari
promoter CaMV 35S dan ketahanan terhadap basta di bawah kendali promoter Ubi.
Vektor ini mengandung gen hygromycin phosphotransferase(HPT) untuk seleksi tanaman
transforman.
Induksi Kalus Embriogenik . Benih padi
disterilkan dengan direndam dalam alkohol 70% selama satu menit, chlorox 20%
selama 30 menit dan dibilas tiga kali dengan air steril. Benih yang telah
disterilkan digunakan sebagai eksplan untuk menginduksi pembentukan kalus
embriogenik. Induksi kalus dilakukan dalam media yang terdiri atas media dasar
NB (media yang mengandung unsur makro dari media dasar N6 (Chu et al. 1975) dan
unsur mikro dan vitamin dari media dasar B5 (Gamborg dan Shyluk 1981), dengan
penambahan sukrosa 30 g/l, fitagel 3 g/l, dan 2,4-D 2,5 mg/l, dengan pH 5,8.
Kalus mulai terbentuk 3-4 minggu setelah penanaman eksplan dalam media. Kalus
yang dihasilkan dipindahkan pada media induksi kalus yang sama. Kalus hasil
subkultur pertama yang berumur tidak lebih dari 2 minggu dan yang bersifat
embriogenik digunakan sebagai eksplan untuk transformasi.
Persiapan Bakteri A.
Tumefaciens dan Ko-kultivasi . Koloni Agrobacterium yang mengandung vektor penanda aktivasi ditumbuhkan
pada media YEP cair yang mengandung antibiotik karbenisilin 75 mg/l dan
kanamisin 100 mg/l selama semalam pada inkubator yang bergoyang dengan suhu 28°C.
Selanjutnya 500 ul kultur tersebut ditumbuhkan pada media AB padat yang
mengandung antibiotik karbenisilin 75 mg/l dan kanamisin 100 mg/l, selama 3
hari pada suhu 28°C. Kultur Agrobacterium
kemudian dilarutkan pada media ko-kultivasi cair, yaitu media dasar R2
(Ohira et al.1973) dengan penambahan 2,4-D 2,5 mg/l, glukosa 10 g/l, dan
asetosiringon 100 uM, dengan pH 5,2. Kalus - kalus padi embriogenik direndam
dalam suspensi Agrobacterium selama
15 menit. Selanjutnya kalus dipanen dan dikeringkan pada kertas saring steril.
Kalus ditransfer ke media ko-kultivasi padat, yang terdiri dari media dasar R2
dengan penambahan 2,4-D 2,5 mg/l, glukosa 10 g/l, asetosiringon 100 uM, dan fitagel
3 g/l, dengan pH 5,2, selama 4 hari pada suhu 25°C dalam kondisi gelap.
Seleksi Kalus pada Media Seleksi. Kalus-kalus
hasil transformasi diseleksi pada me-
dia seleksi yang terdiri dari media
dasar R2 dengan penambahan 2,4-D 2,5 mg/l, sukrosa 30 g/l, dan fitagel 3 g/l,
higromisin 50 mg/l, sefotaksim 400 mg/l, vankomisin 100 mg/l, dengan pH 6.
Kalus disubkultur pada media yang sama selama 2 x 2 minggu. Kalus-kalus yang
tahan dan menunjukkan tanda-tanda embriogenik dipindahkan ke media induksi
embrio yang terdiri
dari media dasar LS (Linsmaier dan
Skoog 1965) dengan penambahan 2,4-D 2,5 mg/l, sukrosa 30 g/l, air kelapa 100
ml/l dan fitagel 3 g/l, higromisin 50 mg/l, sefotaksim 100 mg/l, dan vankomisin
100 mg/l, dengan pH 5,8, selama kurang lebih satu minggu.
Regenerasi Kalus dan Induksi Perakaran. Setelah
didapatkan kalus yang embriogenik (diseleksi dengan mikroskop binokuler), kalus
kemudian dipindahkan ke media regenerasi. Media regenerasi yang digunakan
adalah media dasar LS dengan penambahan IAA 0,5 mg/l, BAP 0,3 mg/l,
sefotaksim100 mg/l, vankomisin 100 mg/l, higromisin 30 mg/l, sukrosa 40 g/l,
dan fitagel 7 g/l, dengan pH 5,8. Selanjutnya, kultur diinkubasikan dengan
penyinaran 1.000 lux selama 16 jam sehari dalam ruang kultur bersuhu 28°C.
Kalus secara kontinyu dipindahkan ke media regenerasi yang masih segar setiap 2
minggu hingga terbentuk tunas. Untuk menginduksi pembentukan planlet, tunas
diakarkan dalam media perakaran, yaitumedia dasar LS, dengan penambahan
higromisin 40 mg/l, sukrosa 30 g/l, dan fitagel 3g/l, dengan pH 5,8 selama dua
minggu atau sampai dengan terbentuk akar.
Aklimatisasi. Aklimatisasi dilakukan secara
bertahap dengan menanam planlet selama satu minggu dalam tabung reaksi
berdiameter 1,5 cm dan tinggi 15 cm yang berisi 5 ml air dan selama dua minggu
dalam bak plastik ukuran 44 cm x 34 cm x 15 cm yang berisi tanah sawah. Planlet
yang bertahan hidup dalam periode aklimatisasi selanjutnya dipindahkan ke dalam
pot plastik dengan volume 10 l yang berisi tanah sawah.
Analisis Molekuler Gen dengan Teknik PCR.
1. Isolasi DNA Total dari Tanaman. dilakukan
menggunakan metode Shure et al (1983). DNA yang didapatkan kemudian diukur
konsentrasinya menggunakan spektrofotometer. Selanjutnya DNA diencerkan dengan
ddH 20 untuk mencapai konsentrasi 10 ng/ul. DNA ini siap digunakan untuk
analisis PCR.
2. Amplifikasi DNA dengan Teknik PCR. dilakukan
menggunakan sepasang primer untuk gen ketahanan basta (bar). Sekuen primer yang
digunakan adalah Bar-Forward 5’ACC
ATG AGC CCA GAA CGA CGC 3’,sedangkan Bar-Reverse5’ CAG GCT GAA GTC CAG CTG CCA
G 3’. Total volume reaksi PCR adalah 20 μl yang mengandung DNA genomik cetakan
100 ng, 0,2 uM untuk masing-masing dNTP, primer Forward dan
Reversemasing-masing dengan konsentrasi 100 ng/ul, MgCl2 dengan konsentrasi 1,5
mM, enzim Taq DNA polymerase 0,16
unit dalam larutan bufer 1x. Reaksi amplifikasi dilakukan dengan mesin PCR
(PCT-100, MJ Research Inc. USA) dengan program sebagai berikut: tahap
denaturasi pada suhu 94°C selama 30 detik, penempelan primer pada suhu 60°C
selama 30 detik, dan pemanjangan/sintesis DNA pada suhu 72°C selama 45detik.
Tahapan program PCR tersebut diulang sebanyak 35 siklus. Pada tahap terakhir
proses PCR dilakukan pemanjangan akhir pada suhu 72°C selama 5 menit. Setelah
proses PCR selesai, sampel disimpan pada suhu 15°C atau bisa langsung divisualisasi
dengan elektroforesis gel agarosa.
3. Elektroforesis Produk PCR pada Gel Agarosa. Sebanyak 10
μl produk PCR dari masing-masing sampel ditambahkan dengan 2 μl loading dye dan
dicampur sempurna, kemudian dimasukkan ke dalam sumur pada agarosa gel 1%
dengan bufer TAE 1x. Untuk menentukan ukuran dari produk PCR disertakan juga
DNA standar (1 kb plus ladder) sebagai pembanding. Sampel DNA tersebut dielektroforesis dengan
tegangan 90 volt selama kuranglebih 1,5 jam. Setelah itu, agarosa gel diwarnai
dengan larutan etidium bromida 10 mg/l selama 10 menit dan dicuci dengan air
selama 20-30 menit. Fragmen-fragmen DNA pada agarosa gel kemudian divisualisasi
dengan Chemidoc sel system (Biorad).
Hasil: Telah
diperoleh 17 lini independen (304 tanaman) padi transgenik japonica tropis
lokal Sulawesi cv. Asemandi yang positif mengandung rakitan penanda aktivasi.Transformasi
genetik padi dengan vektor A. Tumefaciens
yang mengandung rakitan penanda aktivasi telah dilakukan pada tanaman padi
Asemandi, sedangkan T309 digunakan sebagai kontrol transformasi. Dari dua
kultivar padi yang ditransformasi, semuanya dapat menghasilkan lini-lini yang
tahan pada media seleksi antibiotik higromisin dan menghasilkan jumlah lini
independen yang berbeda. Lini-lini starter tersebut akan dikembangkan lebih
lanjut dengan selfing beberapa generasi untuk mendapatkan lini-lini mutan
penanda aktivasi yang stabil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar