Senin, 21 Maret 2016

Hari ini merupakan salah satu hari dimana saya harus kembali pada titik awal kehidupan saya....
Pernahkah anda mendengar bahwasanya lidah seseorang lebih tajam daripada pedang. Ada pula kalimat lain yang saya dapat dari guru sya bahwasanya " berhati- hatilah kamu dalam berucap karna terpeleset lidah sesungguhnya lebih membahayakan daripada hanya terpeleset kaki ". Jika dilihat sederhana memang namun merupakan tantangan yang berat untuk dilakukan apalagi bila kita dalam keadaan yang sedang marah atau ya mungkin galau lah ya......
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”

Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.
Nah dalam hadits tersebut dapat dijelaskan bahwa menjaga lisan merupakan hal yang diwajibkan untuk dipelihara agar kita juga terhindar dari banyaknya masalah dan bahkan  dapat mengakibatkan terputusnya tali silaturahmi antar umat muslim.Pada suatu hari saya pernah berucap suatu kata yang tanpa saya sadari telah membuat orang yang saya sayangi ( bukan pacar lho ya ) menjadi sakit hati.Lantas kemudian keadaanpun berubah karna adanya jarak yang membuat hubungan persahabatan saya menjadi renggang yang kemudian membuat saya juga bertanya- tanya dengan perubahan kondisi ini. Sebelum adanya prasangka buruk terhadap temanmu atau saudaramu ada baiknya bahwa kita mengintrospeksi diri terlebih dahulu terhadap diri kita barangkali ada hal yang memang tidak sepantasnya kita lakukan atau kita ucapkan namun dengan catatan kita juga harus berbaik sangka terhadap yang lainya. Dalam salah satu Firman-Nya Allah telah berfirman surat al Hujurat ayat 12 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. {Q.S Al Hujurat (49) : 12}
Husnuzan berasal dari kata husnul yang berarti baik dan zan yang berarti prasangka. Jadi secara sederhana husnuzan adalah prasangka atau dugaan yang baik. Prasangka baik adalah suatu sikap atau perilaku yang memiliki prasangka baik, berpikiran positif, berpandangan mulia terhadap apa yang ada di hadapannya. Maksudnya adalah selalu berprasangka baik terhadap apa yang sedang menimpanyabaik itu masalah yang berat atau yang tidak. Husnuzan termasuk akhlakul karimah atau bagian dari perilaku terpuji. Lawan dari sikap husnuzan adalah su’uzan atau berburuk sangka. Berprasangka buruk merupakan perbuatan tercela yang harus kkita hindari.selang beberapa hari setelahnya setelah adanya ini itu yang membuat  saya tersadar akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa lidah meruppakan dua sisi pedang yang bebeda satu sisi dia bisa menjadi sahabat kita namun juga bisa menjadi bumerang bagi diri kita. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar