Senin, 07 Maret 2016



 dinasti bani umayah merupakan salah satu dinasti pada masa kejayaan islam dimana pada dinasti ini lahir banyak sosok ilmuan muslim bahkan hingga kini ilmu- ilmunya telah banyak bermanfaat bagi kehidupan manusia dan buku- bukunya masih banyak yang tersimpan di banyak perpustakaan besar di penjuru Dunia. 
selamat membaca semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi banyak orang
BAB I
PENDAHULUAN

Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Kelompok pendukung Ali mengangkat Hasan bin Ali untuk menjadi khalifah. Kelompok pendukung Mu’awiyah mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan dikembalikan kepada umat islam.  Akan tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan. Nama Umayyah merupakan nama kakek kedua dari Mu’awiyah yang bernama Umayyah bin Abdus Syam. Pergantian kepemimpinan Kerajaan Umayyah berdasarkan keturunan. Hal ini berbeda dengan zaman Khulafaur Rasyidin yang dipilih langsung rakyat.
Daulah Umayyah memegang tampuk kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak 30-132 H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua Eropa bahkan telah mencapai wilayah Byzantium. Pada masa pemerintahan Mu’awiyah dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir 20 tahun.
Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Kelompok pendukung Ali mengangkat Hasan bin Ali untuk menjadi khalifah. Kelompok pendukung Mu’awiyah mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan dikembalikan kepada umat islam. Akan tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan.
Nama Umayyah merupakan nama kakek kedua dari Mu’awiyah yang bernama Umayyah bin Abdus Syam. Pergantian kepemimpinan Kerajaan Umayyah berdasarkan keturunan. Hal ini berbeda dengan zaman Khulafaur Rasyidin yang dipilih langsung rakyat.Daulah Umayyah memegang tampuk kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak 30-132 H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua Eropa bahkan telah mencapai wilayah Byzantium.Pada masa pemerintahan Mu’awiyah dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir 20 tahun.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Masa Kekuasaan Bani Umayyah

Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang  menjadi awal kekuasaan Bani Ummayah , pemerintah yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekhilafaan Muawiyah diperoleh melaui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah namun, dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu untukn mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “khilafah Allah” dalam pengertian “penguasa yang diangkat oleh Allah” (Yatim,2008).
            Kekuasaan Bani Ummayah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Ummayyah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720) dan Hasyim ibn Abd Al-Mallik (724-743M) (Yatim,2008).
Dinasti Umawi di Andalusia
Muawiyah
Yazid III
Al Walid
Abdurrahman Ad-Dakhil
Silsilah Quraisy
Quraisy
Abdullah
Muhammad
Al-Abbas
Abdullah
Abu Thalib
Al-Hassan
Al-Hussain
Ali
Muslim
Uqail
Yazid
Muawiyah
Abu Sufyan
Harb
Muawiyah
Al-Hakam
Utsman
Affan
Abul Ash
Abdu Syam
Abdul Manaf
Abdul Muthalib
Hasyim
Ummayah
Marwan
Muhammad
Abdul Aziz
Abdul Malik
Marwan
Umar
Hisyam
Yazid
Sulaiman
Al Walid
           
Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman Muawiyah, Tunisia dapat ditakhlukan. Di sebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstatinopel. Ekspansi ke Timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah abdul al-malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan Afganistan sampai berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khariz, Ferghana, dan Samarkhad (Yatim,2008).
            Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan dizaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Al-Walid adalah masa ketentraman , kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukkan , pemimpin pasukan Islam, Tariq bin Ziyad, dengan pasukannya menyebrangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa. Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibukota Spanyol, Kordova,  dengan cepat dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira, dan Toledo yang dijadikan ibukota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova, pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa . di zaman Umar ibn Abd Al-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, poitiers. Dari sana ia mulai mencoba menyerang Tours, Al-Ghafiqi terbunuh dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut diatas, pulau-pulau yang terdapat di laut tengah juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini (Yatim,2008).
Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, Sebagian Asia Kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah (Yatim,2008).
Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan dari berbagai bidang. Muawiyah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap serta peralatanya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mengecek mata uang. Pada masanya, jabtan khusus seoranghakim (Qadhi) mulai berkembang menjadi profesi sendiri,  Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abd Al-Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, ia mencetak uang sendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abd Al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan Khalifah Abd Al-Malik diikuti oleh putranya Al-Walid ibn Abd Al-Malik (705-715M) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personel yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah (Yatim,2008).
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Muawiyah tidak mentaati isi perjanjianya dengan Hasan ibn Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putra mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi dikalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan (Yatim,2008).
Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Kemudain mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuail Husein ibn Ali dan Abdullah ibn Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi’ah (Pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh Husein ibn Ali. Pada tahun 680M, ia pindah dari Makkah ke Kuffah atas permintaan golongan Syi’ah yang ada di Irak. Umat Islam di daerah ini tidak mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein sebagai Khalifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah di dekat Kuffah, tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikuur di Karbela (Yatim,2008).
            Perlawanan orang-orang Syiah tidak padam dengan terbunuhnya Husein. Gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras, lebih gigih dan tersebar luas. Banyak pemberontakan yang dipelopori kaum syiah yang terjadi. Yang termasuk yang termasyur adalah pemberontakan Kufah pada tahun 685-687M. Mukhtar mendapat pengikut dari kalangan Kaum Mawali, yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain. Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa Khilafah Umar bin Abd- Aziz (717-720M). Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik dari pda menambah perluasannya. Ini berarti bahwa menambah prioritas utamaadalah pembangunan dalam negeri. Meskipun pemerintahannya sangat singkat, dia berhasil membangun hubungan baik dengan golongan syiah. Dia juga memberi kebebasan dengan penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyainan dan kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab.  
            Sepeninggal Umar bin Abd Al-Aziz, kekuasaan Bani Ummayah berada dibawah kekuasaan khalifah Yazid bin Abd Al-Malik (720-724M). Penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketentraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abd Al-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abd Al-Malik (724-743M). Bahkan, dizaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Ummayah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan berikutnya, kekuatan baru ini dapat menggulingkan Bani Ummayah dan menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam bin Abd Al-Malik adalah seorang khalifah  yang kuat dan terampil. Akan tetapi, gerakan oposisi terlalu kuat, khalifah tidak berdaya mematahkannya.
            Sepeninggal Hisyam bin Abd Al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini memperkuat golongan oposisi. Akhirnya pada tahun 750M, daulay Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim Al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan diri keMesir, ditangkap dan dibunuh disana. Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain:
  1. Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
  2. Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
  3. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing.
  4. Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5.       Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Bani Ummayah atas munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd Al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah

B.      Peta Wilayah Kekuasaan Daulah Umayyah

Peta Wilayah kekuasaan Daulah Umayyah di Andalusia mengalami pasang surut tergantung pada kepemimpinn para khalifah Daulah Umayyah di Andalusia. Pada masa pemerintahan ad-Dakhil, wilayah Daulah Umayyah meliputi Kordova, Arkidona, Seville, Toledo dan Granada. Untuk memperluas dan mempertahankan wilayah kekuasaannya, ad-Dakhil membangun dan mengembangkan angkatan bersenjata yang kuat dan terlatih, terdiri atas 40.000 orang prajurit bayaran dari bangsa Barbar. Ia mendatangkan para tentara itu dari Afrika, dan dikenal cukup loyal karena digaji cukup tinggi (Subchi,2006).

Pada masa pemerintahan Kholifah Abdullah (275 – 300 H/ 912 – 961 M), wilayah kekuasaan Bani Umayyah menciut karena banyak terjadi pemberontakan kaum Kristen di sekitar  wilayah Kordova dan Utara Spanyol. Pada masa ini, banyak wilayah Spanyol yang memisahkan diri karena ketidakcakapan Abdullah dalam melaksanakan roda pemerintahannya (Subchi,2006).

Selama 24 tahun masa pemerintahannya, kekuaasan dan wilayah dinasti Bani Umayyah hanya tersisa pada daerah Granada yang menjadi benteng terakhir dinasti tersebut. Banyak wilayah yang memisahkan diri, semisal Algarave, Elvira, dan Murcia. Wilayah-wilayah tersebut banyak didiami oleh bangsa minoritas yang mampu menciptakan sebuah tirani minoritas, mereka mengendalikan hampir semua bidang kehidupan bahkan dapat mengalahkan penduduk pribumi (Subchi,2006).

Tetapi, wilayah-wilayah yang lepas itu dapat direbut kembali pada masa pemerintahan Abdurrahman III (300 – 350 H/ 912 – 961 M). Ia memegang pemerintahan pada usia 21 tahun. Dalam masa kurang dari 20 tahun, Abdurrahman telah berhasil mengembalikan semua daerah yang memisahkan diri ke pangkuan dinasti Bani Umayyah (di Spanyol). Pada masa pemerintahannya inilah dinasti Bani Umayyah di Spanyol mencapai fase keemasan. Pada masa ini, ada tiga dinasti Islam yang mengalami fase kemajuan dan sama-sama memakai gelar khalifah, Dinasti Abbasiyah di Timur, Bani Umayyah di Spanyol, dan Fathimiyah di Mesir.

C.                 Kemajuan-kemajuan yang Dicapai di Bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Terbaginya kekuasaan secara politis antara Timur(Baghdad) dan Barat (Andalusia) tidak menyebabkan perpecahan antara keduanya di bidang peradaban. Komunitas Muslim Andalusia belajar di Baghdad dan sebaliknya banyak muslim Baghdad yang belajar di Andalusia. Karena itu,  pengaruh timbal balik antara keduanya sangat besar (As-Sirjani.2013).

Hisyam (172 – 180 H/ 788 – 796 M) adlah salah satu kholifah yang sangat perhatian dalam ilmu pengetahuan. Ia terkenal sebagai kholifah yang dekat dengan para ulama. Di antara ulama yang hidup dalam masa pemerintahannya adalah Yahya bin Yahya al-Laitsi., salah seorang murid kesayangan Imam Malik. Karena itu, madzhab Maliki banyak dianut oleh masyarakat muslim Andalusia.

Tokoh lain yang popular di bidang ilmu fiqh adalah Abu Muhammad Ali ibn Hazm (w. 455 H/ 1063 M). Karyanya yang terkenal adalah al-Fashl fi al-Milal wa an-Nihal. Dia adalah penganut madzhab Syafii, kemudian beralih ke Imam Daud ad-Dhahiri. Ia juga sangat berpengaruh dalam menyebarkan kedua Madzhab tersebut di Andalusia (As-Sirjani.2013).

Di bidang filsafat, terdapat nama Muhammad bin Abdun al-Jabali, yang belajar Hadits, Tafsir, Fiqh, Logika dan filsafat di Baghdad pada tahun 347 H/ 952 M, dan kembali ke Andalusia tahun 360 H/ 965 M. Perkembangan filsafat berkembang pada masa  an-Nashir dan mencapai puncak kejayaan pada masa Khalifah al-Mustansir.

Di bidang astronomi, tokoh yang terkenal adalah Abu al-Qasim Abbas abn Farnas. Ia banyak melakukan percobaan-percobaan yang spektakuler pada waktu itu, dan atas eksperimen itu ia dituduh tidak waras oleh sebagian orang.

Di bidang kedokteran, kaum Muslimin Andalusia tidak mau ketinggalan dengan saudaranya di Timur, Baghdad. Di antara dokter yang terkenal adalah Abu al-Qasim az-Zahrawi, di Barat dikenal dengan sebutan Abulcasis. Ia dikenal sebagai dokter ahli bedah, perintis ahli telinga dan penyakit kulit. Karyanya yang sangat monumental berjudul at-Tahrif Liman Ajaza an at-Talif  pada abad ke 12 M telah diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan dicetak ulang di Genoa (1497 M), Basle (1541 M), dan Oxford (1778 M). Sampai sekarang buku tersebut masih dipakai sebagian kalangan terpelajar di Eropa.

Di bidang sejarah, terdapat sejarawan terkemuka yaitu Abu Marwan Abdul Malik ibn Habib (w. 238 H/ 852 M). Ia menulis karya at-Tarikh, menyerupai  Tarikh at-Tabari. Buku ini berisi permulaan bumi dan langit, sampai penaklukan Islam atas Andalusia. Sejarawan lain Andalusia adalah Abu Bakar Muhammad ibn Umar (w.367 H/ 977 M), penulis buku Tarikh Iftitah al-Andalus, dan Hayyan ibn Khallaf ibn Hayyan (w. 469 H/ 1076 M), menulis buku al-Muqtabis fi Tarikh Rijal al-Andalus (As-Sirjani.2013).

Perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan tidak lepas dari kerja keras  umat Islam untuk selalu meningkatkan peradaban. Abdurrahman al-Ausath (206 -238 H/ 822 – 852 M) umpamanya, sangat perhatian terhadap hal ini. Ia banyak mendatangkan kitab-kitab Yunani  yang telah diterjemahkan para kholifah Abbasiyah ke Kordova. Kholifah al-Mustansir juga menunjukkan perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ia banyak mendatangkan buku-buku dari Damaskus, Baghdad, dan Kairo untuk mengisi perpustakaan negara di daerah  Kordova (As-Sirjani.2013).

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat erat kaitannya dengan kondisi politik, ekonomi, dan pemerintahan yang stabil pada masa itu. Kerjasama antara penguasa, ulama, hartawan, dan ilmuwan yang harmonis, sangat mempercepat laju perkembangan kebudayaan.
Sejarawan Philip K. Hitti menjuluki Kordova sebagai mutiara dunia, pada masa al-Mustanshirmemiliki tidak kurang dari 800 buah sekolahan, 70 buah perpustakaan umum dan pribadi. Al-Mustanshir sendiri memiliki 400.000 buku untuk perpustakaan pribadinya. Ia mengoleksi buku-buku dengan cara membeli, atau menyalin naskah. Untuk mendapatkan koleksi itu, mengirim para agen buku ke Baghdad, Iskandaria, dan Damaskus (As-Sirjani.2013).

D.                 Kemajun Dalam Bidang Sosial Budaya

Pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah, beberapa cabang seni budaya mengalami kemajuan, terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa dan seni bangunan. Berikut uraian singkat mengenai perkembangan dan kemajuan dalam bidang social budaya (As-Sirjani.2013).

a.                   Kemajuan Dalam Bidang Bahasa dan Sastra
Di antara salah satu faktor terjadinya kemajuan dalam bidang bahasa dan sastra adalah karena luasnya wilayah kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Wilayah yang luas dengan beragam penduduk dan bahasa yang berbeda, menambah perbendaharaan kata menjadi semakin kaya dalam penggunaan bahasa komunikasi di antara penduduk. Akan tetapi, pada masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, terjadi penyeragaman bahasa. Semua bahasa daerah, terutama dalam bidang administrasi dan pemerintahan, diharuskan menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian, bahasa Arab mengalami kemajuan yang cukup berarti pada masa itu (As-Sirjani.2013).
            Selain faktor  tersebut di atas, beberapa kota besar sepaerti Kuffah, Basrah, Damaskus dan lain-lain merupakan pusat kegiatan pengembangan sastra. Pertemuan peradaban antara bangsa yang telah maju sebelumnya dengan bangsa Arab  muslim, menambah semarak kegiatan sastra dan bahasa, sehingga berkembang pesat ilmu bahasa dan sastra Arab. Banyak sastrawan lahir dan mengembangkan kemampuannya dalam bidang ini. Di antara para ahli bahasa dan sastrawan yang terkenal pada saat itu adalah (As-Sirjani, 2013):
1.                   Nu`man bin Basyir al-Anshary (w.65 H)
2.                   Ibn Mafragh al-Hamiri (w.69 H)
3.                   Miskin ad-Daramy (w.90 H)
4.                   Al-Akhthal (w.95 H)
5.                   Jarir (w.111 H)
6.                   Abul Aswad al-Du`ali (w.69 H) dan lain-lain

b.                   Kemajuan Dalam Bidang Seni Rupa
            Seperti telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, bahwa salah satu orientasi pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah pengembangan wilayah kekuasaan. Usaha ini bukan berarti mengabaikan pengembangan bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni lainnya. Terbukti banyak ditemukan berbagai perkembangan dan kemajuan yang terdapat pada masa pemerintahan, salah satunya adalah perkembangan seni rupa (As-Sirjani,2013).  
            Seni rupa yang berkembang pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah hanyalah seni ukir dan seni pahat. Seni ukir yang berkembang pesat pada masa itu adalah penggunaan khat Arab (kaligrafi) sebagai motif dan rangkuman syair yang dipahat dipahat dan diukir pada tembok bangunan masjid, istana dan gedung-gedung (As-Sirjani,2013).
            Di antara kemajuan dalam bidang ini dapat dilihat pada dinding Qushir Amrah, istana mungil Amrah. Bangunan ini merupakan istana musim panas yang terletak di daerah pegunungan, sebelah Timur Laut Mati sekitar 50 mil dari kota Amman, Yordania. Istana yang dibangun oleh Khalifah al-Walid bin Adul Malik ini dirancang untuk tempat  pada musim panas dan waktu berburu, sehingga tempat tersebut sering disebut dengan istana berburu (As-Sirjani,2013).

c.                   Seni Bangun atau Arsitektur
Para penguasa dinasti Umayyah tidak hanya mampu menjalankan pemerintahan dan persoalan-persoalan politik militer, mereka juga memiliki cita rasa seni yang tinggi, terutama cita rasa dalam seni bangunan. Oleh karena itu banyak para penguasa dinasti Bani Umayyah mahir dalam seni arsitektur. Mereka mencurahkan perhatian demi kemajuan bidang ini. Di antara hasil kreatifitas sebagai bentuk perwujudan seni rupa itu adalah berdirinya sejumlah bangunan megah, misalnya, Masjid Bitul Maqdis di Yerussalem, Palestina, terkenal dengan Kubbah al-Sakhra, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 691 M. Bangunan itu merupakan salah satu peninggalan terindah dari masa kejayaan dinasti Bani Umayyah. Bangunan masjid tersebut merupakan bangunan masjid yang ditutup atapnya d engan kubah. Selain itu, Abdul Malik juga membangun Masjid al-Aqsa yang tidak kalah tinggi nilai seni arsitekturnya. Dengan gaya arsitektur tinggi juga terdapat di Damaskus yang dibangun oleh al-Walid bin Abdul Aziz sebagai masjid istana. Ruangan masjid ini dihiasi berbagai ornamen yang terbuat dari batu pualam (marmer) dengan bentuk mosaik yang indah (As-Sirjani,2013).

E.                  Peninggalan Sejarah Daulah Umayyah 

Banyak peninggalan sejarah selama masa Daulah Umayyah di Spanyol. Pemerintahan ad-Dakhil sangat memperhatikan kemajuan peradaban, seperti memperindah kota-kota di wilayah kekuasaannya, membangun saluran air bersih di sekeliling ibu kota, membangun villa Munyat ar-Rushafah meniru istana Damaskus, membangun masjid Kordova, yang bertahan sampai sekarang dengan nama populer La Mezquita. Selain masjid, ia juga membangun jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir (Subchi,2006). 
Andalusia, daerah sebelah Selatan Spanyol, memiliki gedung-gedung luar biasa indah untuk dikunjungi. Gedung-gedung cantik ini adalah perpaduan arsitektur Arab dan Kristen yang kental. Maklumlah, Spanyol pernah berada di bawah ajaran Katolik, kemudian dikuasai negeri Arab, hingga diambil alih lagi oleh Katolik. Karena itu di Andalusia akan banyak didapatkan tempat-tempat istimewa mulai dari gereja, masjid sampai ke bekas benteng pertahanan (Subchi,2006).
Katedral Aljama, Cordoba termasuk salah satu bangunan yang paling memesona di Spanyol. Berbeda dari gereja katedral pada umumnya, yang satu ini dibangun di dalam masjid. Bisa dibayangkan betapa uniknya bangunan ini. Sejarahnya bermula pada tahun 785 M, ketika Abdurrahman ad-Dakhil, raja Andalusia waktu itu, memproklamirkan pembuatan masjid Aljama di lokasi gereja San Vicente. Ketika kekuatan region Andalusia terus menguat pada zaman itu, masjid juga semakin diperluas. Awalnya Hisham I menambah kolam dan menara. Kemudian 40 tahun kemudian Abdurrahman II memperluas masjid menjadi dua kali lebih besar. Pada tahun 951, Abdurrahman III membentuk menara baru dan meluaskan taman ke sebelah utara (Subchi,2006). 



KESIMPULAN

  • Kekuasaan  Bani Umayyah berumur kurang lebih  90 tahun.  Kekhalifahan muawiyah diperoleh melalui kekerasan diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan suara terbanyak.
  • Keberhasilan ekspansi bani Ummayah dibeberapa daerah, baik timur maupun barat, sangat luas meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Afganistan, Persia, Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis.
  • Faktor   yang menyebabkan lemahnya bani Umayyah yaitu
1)       Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
2)       Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3)       Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing.
4)       Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5)       Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Bani Ummayah atas munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd Al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah
  • Kemajuan yang dicapai adalah dibidang pendidikan dan pengetahuan serta kemajuan dalam bidang sosial budaya.
  •  Peninggalan sejarah daulah bani Umayyah yaitu saluran air bersih disekeliling kota, membangun villa Munyat ar-Rushafah, masjid Kordova, jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir danlain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

As-Sirjani, Raghib.2013. Ensiklopedi Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al Kautsar
Yatim,Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Subchi,Imam. 2006. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: PT. Listafariska Putra.

Tabel Masa Pemerintahan
Nama Khalifah
Masa Pemerintahan
Muawiyah ibn Abi Sufyan
661-681M
Yazid ibn Muawiyah
681-683M
Muawiyah ibn Yazid
683-684M
Marwan ibn Al-Hakam
684-685 M
Abdul Malik ibn Marwan
685-705 M
Al Walid ibn Abdul Malik
705-715 M
Sulaiman ibn Abdul Malik
715-717 M
Umar ibn Abdul Aziz
717-720 M
Yazid ibn Abdul Malik
720-724 M
Walid ibn Yazis
743-744 M
Yazid ibn Walid
744 M
Ibrahim ibn Malik
744 M
Marwan ibn Muhammad
745-750 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar