dinasti bani umayah merupakan salah satu dinasti pada masa kejayaan islam dimana pada dinasti ini lahir banyak sosok ilmuan muslim bahkan hingga kini ilmu- ilmunya telah banyak bermanfaat bagi kehidupan manusia dan buku- bukunya masih banyak yang tersimpan di banyak perpustakaan besar di penjuru Dunia.
selamat membaca semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi banyak orang
BAB I
PENDAHULUAN
Masa
pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.
Kelompok pendukung Ali mengangkat Hasan bin Ali untuk menjadi khalifah. Kelompok
pendukung Mu’awiyah mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagai khalifah Hasan
menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani
Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan
dikembalikan kepada umat islam. Akan
tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah
sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah
adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan. Nama Umayyah merupakan
nama kakek kedua dari Mu’awiyah yang bernama Umayyah bin Abdus Syam. Pergantian
kepemimpinan Kerajaan Umayyah berdasarkan keturunan. Hal ini berbeda dengan
zaman Khulafaur Rasyidin yang dipilih langsung rakyat.
Daulah Umayyah memegang tampuk
kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak 30-132
H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M. Perluasan
wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua Eropa
bahkan telah mencapai wilayah Byzantium. Pada masa pemerintahan Mu’awiyah
dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai
pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan
perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan
jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir
20 tahun.
Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Kelompok pendukung Ali mengangkat Hasan bin Ali untuk menjadi khalifah. Kelompok pendukung Mu’awiyah mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan dikembalikan kepada umat islam. Akan tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan.
Masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir dengan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Kelompok pendukung Ali mengangkat Hasan bin Ali untuk menjadi khalifah. Kelompok pendukung Mu’awiyah mengangkat Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah sehingga kekhalifahan dipegang oleh Bani Umayyah dengan nantinya setelah Mu’awiyah meninggal, pemerintahan akan dikembalikan kepada umat islam. Akan tetapi, perjanjian ini tidak pernah diwujudkan dan dengan diangkatnya Mu’awiyah sebagai khalifah, berdirilah Kerajaan Bani Umayyah. Pendiri Kerajaan Umayyah adalah Mu’awiyah bin abu Sufyan.
Nama Umayyah merupakan nama kakek
kedua dari Mu’awiyah yang bernama Umayyah bin Abdus Syam. Pergantian
kepemimpinan Kerajaan Umayyah berdasarkan keturunan. Hal ini berbeda dengan
zaman Khulafaur Rasyidin yang dipilih langsung rakyat.Daulah Umayyah memegang
tampuk kekhalifahan selama dua periode, di Suriah hampir satu abad, yaitu sejak
30-132 H atau 660-750 M dan di Spanyol selama 275 tahun, yaitu 756-1031 M.
Perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Daulah Umayyah telah memasuki benua
Eropa bahkan telah mencapai wilayah Byzantium.Pada masa pemerintahan Mu’awiyah
dilakukan berbagai perubahan dalam pemerintahan. Mengingat berbagai
pengamalannya yang pernah menjadi Gubernur di Syam, Mu’awiyah melakukan
perubahan pemerintahan, yaitu membentuk jawatan perhubungan (jawatan pos) dan
jawatan pendaftaran. Mu’awiyah menduduki jabatan sebagai Khalifah selama hampir
20 tahun.
BAB II
PEMBAHASAN
- Masa Kekuasaan Bani Umayyah
Memasuki
masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi
awal kekuasaan Bani Ummayah , pemerintah yang bersifat demokratis berubah
menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekhilafaan Muawiyah
diperoleh melaui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan
atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika
Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya,
Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia
memang tetap menggunakan istilah khalifah namun, dia memberikan interpretasi
baru dari kata-kata itu untukn mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya
“khilafah Allah” dalam pengertian “penguasa yang diangkat oleh Allah” (Yatim,2008).
Kekuasaan Bani Ummayah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu
kota negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa
sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Ummayyah ini
adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705M),
Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715M), Umar ibn Abd al-Aziz (717-720) dan Hasyim
ibn Abd Al-Mallik (724-743M) (Yatim,2008).
|
Dinasti Umawi di
Andalusia
|
|
Muawiyah
|
|
Yazid III
|
|
Al Walid
|
|
Abdurrahman
Ad-Dakhil
|
|
Silsilah Quraisy
|
|
Quraisy
|
|
Abdullah
|
|
Muhammad
|
|
Al-Abbas
|
|
Abdullah
|
|
Abu Thalib
|
|
Al-Hassan
|
|
Al-Hussain
|
|
Ali
|
|
Muslim
|
|
Uqail
|
|
Yazid
|
|
Muawiyah
|
|
Abu Sufyan
|
|
Harb
|
|
Muawiyah
|
|
Al-Hakam
|
|
Utsman
|
|
Affan
|
|
Abul Ash
|
|
Abdu Syam
|
|
Abdul Manaf
|
|
Abdul Muthalib
|
|
Hasyim
|
|
Ummayah
|
|
Marwan
|
|
Muhammad
|
|
Abdul Aziz
|
|
Abdul Malik
|
|
Marwan
|
|
Umar
|
|
Hisyam
|
|
Yazid
|
|
Sulaiman
|
|
Al Walid
|
Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali
dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Di zaman Muawiyah, Tunisia dapat
ditakhlukan. Di sebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai
ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan
serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstatinopel. Ekspansi ke Timur yang
dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah abdul al-malik. Dia
mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan Afganistan sampai berhasil
menundukkan Balkh, Bukhara, Khariz, Ferghana, dan Samarkhad (Yatim,2008).
Ekspansi
ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan dizaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa
pemerintahan Al-Walid adalah masa ketentraman , kemakmuran dan ketertiban. Umat
Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang
lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara
menuju wilayah Barat Daya. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukkan ,
pemimpin pasukan Islam, Tariq bin Ziyad, dengan pasukannya menyebrangi selat
yang memisahkan antara Maroko dengan benua Eropa. Tentara Spanyol dapat
dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya.
Ibukota Spanyol, Kordova, dengan cepat
dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira,
dan Toledo yang dijadikan ibukota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova, pasukan
Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat
setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa . di zaman Umar
ibn Abd Al-Aziz, serangan dilakukan ke Perancis melalui pegunungan Piranee.
Serangan ini dipimpin oleh Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai
dengan menyerang Bordeau, poitiers. Dari sana ia mulai mencoba menyerang Tours,
Al-Ghafiqi terbunuh dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping
daerah-daerah tersebut diatas, pulau-pulau yang terdapat di laut tengah juga
jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah ini (Yatim,2008).
Dengan
keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di Timur maupun Barat, wilayah
kekuasaan Islam pada masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika utara, Syria, Palestina, Jazirah
Arab, Irak, Sebagian Asia Kecil, Persia, Afghanistan, daerah yang sekarang
disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah (Yatim,2008).
Disamping
ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan
dari berbagai bidang. Muawiyah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu
dengan menyediakan kuda yang lengkap serta peralatanya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan
mengecek mata uang. Pada masanya, jabtan khusus seoranghakim (Qadhi) mulai berkembang menjadi profesi
sendiri, Qadhi adalah seorang spesialis
dibidangnya. Abd Al-Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai
di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, ia mencetak uang sendiri pada
tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abd Al-Malik
juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan
memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
Keberhasilan Khalifah Abd Al-Malik diikuti oleh putranya Al-Walid ibn Abd
Al-Malik (705-715M) seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan
pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personel yang
terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia
juga membangun jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainya,
pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah (Yatim,2008).
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti bahwa
politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Muawiyah tidak mentaati isi
perjanjianya dengan Hasan ibn Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa
persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan
umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putra mahkota
menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi dikalangan rakyat yang
mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan (Yatim,2008).
Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau
menyatakan setia kepadanya. Kemudain mengirim surat kepada gubernur Madinah,
memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara
ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuail Husein ibn Ali dan Abdullah ibn
Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi’ah (Pengikut Ali) melakukan konsolidasi
(penggabungan) kekuatan kembali. Perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai oleh
Husein ibn Ali. Pada tahun 680M, ia pindah dari Makkah ke Kuffah atas
permintaan golongan Syi’ah yang ada di Irak. Umat Islam di daerah ini tidak
mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein sebagai Khalifah. Dalam pertempuran
yang tidak seimbang di Karbela, sebuah daerah di dekat Kuffah, tentara Husein
kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke
Damaskus, sedang tubuhnya dikuur di Karbela (Yatim,2008).
Perlawanan
orang-orang Syiah tidak padam dengan terbunuhnya Husein. Gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras, lebih gigih
dan tersebar luas. Banyak pemberontakan yang dipelopori kaum syiah yang
terjadi. Yang termasuk yang termasyur adalah pemberontakan Kufah pada tahun
685-687M. Mukhtar mendapat pengikut dari kalangan Kaum Mawali, yaitu umat Islam
bukan Arab, berasal dari Persia, Armenia dan lain-lain. Hubungan pemerintah
dengan golongan oposisi membaik pada masa Khilafah Umar bin Abd- Aziz
(717-720M). Ketika dinobatkan sebagai khalifah, dia menyatakan bahwa
memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik
dari pda menambah perluasannya. Ini berarti bahwa menambah prioritas
utamaadalah pembangunan dalam negeri. Meskipun pemerintahannya sangat singkat,
dia berhasil membangun hubungan baik dengan golongan syiah. Dia juga memberi
kebebasan dengan penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyainan dan
kepercayaannya. Pajak diperingan. Kedudukan mawali disejajarkan dengan muslim
Arab.
Sepeninggal Umar bin Abd
Al-Aziz, kekuasaan Bani Ummayah berada dibawah kekuasaan khalifah Yazid bin Abd
Al-Malik (720-724M). Penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan
dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup
dalam ketentraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau. Dengan
latar belakang kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi
terhadap pemerintahan Yazid bin Abd Al-Malik. Kerusuhan terus berlanjut hingga
masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abd Al-Malik (724-743M).
Bahkan, dizaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan
berat bagi pemerintahan Bani Ummayah. Kekuatan ini berasal dari kalangan Bani
Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat
serius. Dalam perkembangan berikutnya, kekuatan baru ini dapat menggulingkan
Bani Ummayah dan menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya
Hisyam bin Abd Al-Malik adalah seorang khalifah
yang kuat dan terampil. Akan tetapi, gerakan oposisi terlalu kuat,
khalifah tidak berdaya mematahkannya.
Sepeninggal Hisyam bin Abd
Al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi
juga bermoral buruk. Hal ini memperkuat golongan oposisi. Akhirnya pada tahun
750M, daulay Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim
Al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan
diri keMesir, ditangkap dan dibunuh disana. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan dinasti Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran.
Faktor-faktor itu antara lain:
- Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan persaingan yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
- Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
- Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing.
- Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5.
Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Bani Ummayah
atas munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd
Al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan
Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah
B.
Peta Wilayah Kekuasaan Daulah Umayyah
Peta Wilayah kekuasaan Daulah Umayyah di Andalusia mengalami pasang surut
tergantung pada kepemimpinn para khalifah Daulah Umayyah di Andalusia. Pada
masa pemerintahan ad-Dakhil, wilayah Daulah Umayyah meliputi Kordova, Arkidona,
Seville, Toledo dan Granada. Untuk memperluas dan mempertahankan wilayah
kekuasaannya, ad-Dakhil membangun dan mengembangkan angkatan bersenjata yang
kuat dan terlatih, terdiri atas 40.000 orang prajurit bayaran dari bangsa
Barbar. Ia mendatangkan para tentara itu dari Afrika, dan dikenal cukup loyal
karena digaji cukup tinggi (Subchi,2006).
Pada masa
pemerintahan Kholifah Abdullah (275 – 300 H/ 912 – 961 M), wilayah kekuasaan
Bani Umayyah menciut karena banyak terjadi pemberontakan kaum Kristen di
sekitar wilayah Kordova dan Utara
Spanyol. Pada masa ini, banyak wilayah Spanyol yang memisahkan diri karena
ketidakcakapan Abdullah dalam melaksanakan roda pemerintahannya (Subchi,2006).
Selama 24 tahun masa
pemerintahannya, kekuaasan dan wilayah dinasti Bani Umayyah hanya tersisa pada
daerah Granada yang menjadi benteng terakhir dinasti tersebut. Banyak wilayah
yang memisahkan diri, semisal Algarave, Elvira, dan Murcia. Wilayah-wilayah
tersebut banyak didiami oleh bangsa minoritas yang mampu menciptakan sebuah
tirani minoritas, mereka mengendalikan hampir semua bidang kehidupan bahkan
dapat mengalahkan penduduk pribumi (Subchi,2006).
Tetapi,
wilayah-wilayah yang lepas itu dapat direbut kembali pada masa pemerintahan
Abdurrahman III (300 – 350 H/ 912 – 961 M). Ia memegang pemerintahan pada usia
21 tahun. Dalam masa kurang dari 20 tahun, Abdurrahman telah berhasil
mengembalikan semua daerah yang memisahkan diri ke pangkuan dinasti Bani
Umayyah (di Spanyol). Pada masa pemerintahannya inilah dinasti Bani Umayyah di
Spanyol mencapai fase keemasan. Pada masa ini, ada tiga dinasti Islam yang
mengalami fase kemajuan dan sama-sama memakai gelar khalifah, Dinasti Abbasiyah
di Timur, Bani Umayyah di Spanyol, dan Fathimiyah di Mesir.
C.
Kemajuan-kemajuan yang Dicapai di Bidang Pendidikan dan
Ilmu Pengetahuan
Terbaginya kekuasaan secara politis antara Timur(Baghdad) dan Barat
(Andalusia) tidak menyebabkan perpecahan antara keduanya di bidang peradaban.
Komunitas Muslim Andalusia belajar di Baghdad dan sebaliknya banyak muslim
Baghdad yang belajar di Andalusia. Karena itu,
pengaruh timbal balik antara keduanya sangat besar (As-Sirjani.2013).
Hisyam (172 – 180 H/ 788 – 796 M) adlah salah satu kholifah yang sangat
perhatian dalam ilmu pengetahuan. Ia terkenal sebagai kholifah yang dekat
dengan para ulama. Di antara ulama yang hidup dalam masa pemerintahannya adalah
Yahya bin Yahya al-Laitsi., salah seorang murid kesayangan Imam Malik. Karena
itu, madzhab Maliki banyak dianut oleh masyarakat muslim Andalusia.
Tokoh lain yang popular di bidang ilmu fiqh adalah Abu Muhammad Ali ibn
Hazm (w. 455 H/ 1063 M). Karyanya yang
terkenal adalah al-Fashl fi al-Milal wa
an-Nihal. Dia adalah penganut madzhab Syafii, kemudian beralih ke Imam Daud
ad-Dhahiri. Ia juga sangat berpengaruh dalam menyebarkan kedua Madzhab tersebut
di Andalusia (As-Sirjani.2013).
Di bidang filsafat,
terdapat nama Muhammad bin Abdun al-Jabali, yang belajar Hadits, Tafsir, Fiqh,
Logika dan filsafat di Baghdad pada tahun 347 H/ 952 M, dan kembali ke
Andalusia tahun 360 H/ 965 M. Perkembangan filsafat berkembang pada masa an-Nashir dan mencapai puncak kejayaan pada
masa Khalifah al-Mustansir.
Di bidang astronomi,
tokoh yang terkenal adalah Abu al-Qasim Abbas abn Farnas. Ia banyak melakukan
percobaan-percobaan yang spektakuler pada waktu itu, dan atas eksperimen itu ia
dituduh tidak waras oleh sebagian orang.
Di bidang kedokteran,
kaum Muslimin Andalusia tidak mau ketinggalan dengan saudaranya di Timur,
Baghdad. Di antara dokter yang terkenal adalah Abu al-Qasim az-Zahrawi, di
Barat dikenal dengan sebutan Abulcasis.
Ia dikenal sebagai dokter ahli bedah, perintis ahli
telinga dan penyakit kulit. Karyanya yang sangat
monumental berjudul at-Tahrif Liman Ajaza
an at-Talif pada abad ke 12 M telah
diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan dicetak ulang di Genoa (1497 M), Basle
(1541 M), dan Oxford (1778 M). Sampai sekarang buku tersebut masih dipakai sebagian kalangan terpelajar di
Eropa.
Di bidang sejarah, terdapat sejarawan terkemuka yaitu Abu Marwan Abdul
Malik ibn Habib (w. 238 H/ 852 M). Ia menulis karya at-Tarikh, menyerupai Tarikh at-Tabari. Buku ini berisi
permulaan bumi dan langit, sampai penaklukan Islam atas Andalusia. Sejarawan
lain Andalusia adalah Abu Bakar Muhammad ibn Umar (w.367 H/ 977 M), penulis
buku Tarikh Iftitah al-Andalus, dan
Hayyan ibn Khallaf ibn Hayyan (w. 469 H/ 1076 M), menulis buku al-Muqtabis fi Tarikh Rijal al-Andalus (As-Sirjani.2013).
Perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan tidak lepas dari kerja keras umat Islam untuk selalu meningkatkan
peradaban. Abdurrahman al-Ausath (206 -238 H/ 822 – 852 M) umpamanya, sangat
perhatian terhadap hal ini. Ia banyak mendatangkan kitab-kitab Yunani yang telah diterjemahkan para kholifah
Abbasiyah ke Kordova. Kholifah al-Mustansir juga menunjukkan perhatian terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan. Ia banyak mendatangkan buku-buku dari Damaskus,
Baghdad, dan Kairo untuk mengisi perpustakaan negara di daerah Kordova (As-Sirjani.2013).
Perkembangan ilmu pengetahuan sangat erat kaitannya dengan kondisi politik,
ekonomi, dan pemerintahan yang stabil pada masa itu. Kerjasama antara penguasa,
ulama, hartawan, dan ilmuwan yang harmonis, sangat mempercepat laju
perkembangan kebudayaan.
Sejarawan Philip K. Hitti menjuluki Kordova sebagai mutiara dunia, pada
masa al-Mustanshirmemiliki tidak kurang dari 800 buah sekolahan, 70 buah
perpustakaan umum dan pribadi. Al-Mustanshir sendiri memiliki 400.000 buku
untuk perpustakaan pribadinya. Ia mengoleksi buku-buku dengan cara membeli,
atau menyalin naskah. Untuk mendapatkan koleksi itu, mengirim para agen buku ke
Baghdad, Iskandaria, dan Damaskus (As-Sirjani.2013).
D.
Kemajun
Dalam Bidang Sosial Budaya
Pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah, beberapa cabang seni budaya
mengalami kemajuan, terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa dan seni
bangunan. Berikut uraian singkat mengenai
perkembangan dan kemajuan dalam bidang social budaya (As-Sirjani.2013).
a.
Kemajuan Dalam Bidang Bahasa dan Sastra
Di antara salah satu
faktor terjadinya kemajuan dalam bidang bahasa dan sastra adalah karena luasnya
wilayah kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Wilayah yang luas dengan beragam
penduduk dan bahasa yang berbeda, menambah perbendaharaan kata menjadi semakin
kaya dalam penggunaan bahasa komunikasi di antara penduduk. Akan tetapi, pada
masa pemerintahan Khalifah al-Walid bin
Abdul Malik, terjadi penyeragaman bahasa. Semua bahasa daerah, terutama
dalam bidang administrasi dan pemerintahan, diharuskan menggunakan bahasa Arab.
Dengan demikian, bahasa Arab mengalami kemajuan yang
cukup berarti pada masa itu (As-Sirjani.2013).
Selain
faktor tersebut di atas, beberapa kota
besar sepaerti Kuffah, Basrah, Damaskus dan lain-lain merupakan pusat kegiatan
pengembangan sastra. Pertemuan peradaban antara bangsa yang telah maju
sebelumnya dengan bangsa Arab muslim,
menambah semarak kegiatan sastra dan bahasa, sehingga berkembang pesat ilmu
bahasa dan sastra Arab. Banyak sastrawan lahir dan mengembangkan kemampuannya
dalam bidang ini. Di antara
para ahli bahasa dan sastrawan yang terkenal pada saat itu adalah (As-Sirjani,
2013):
1.
Nu`man
bin Basyir al-Anshary (w.65 H)
2.
Ibn
Mafragh al-Hamiri (w.69 H)
3.
Miskin
ad-Daramy (w.90 H)
4.
Al-Akhthal
(w.95 H)
5.
Jarir
(w.111 H)
6.
Abul
Aswad al-Du`ali (w.69 H) dan lain-lain
b.
Kemajuan Dalam Bidang Seni Rupa
Seperti
telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya, bahwa salah satu orientasi
pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah pengembangan wilayah kekuasaan. Usaha ini bukan berarti mengabaikan pengembangan bidang
ilmu pengetahuan, sastra dan seni lainnya. Terbukti banyak ditemukan berbagai
perkembangan dan kemajuan yang terdapat pada masa pemerintahan, salah satunya
adalah perkembangan seni rupa (As-Sirjani,2013).
Seni rupa yang berkembang
pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah hanyalah seni ukir dan seni pahat.
Seni ukir yang berkembang pesat pada masa itu adalah penggunaan khat Arab
(kaligrafi) sebagai motif dan rangkuman syair yang dipahat dipahat dan diukir
pada tembok bangunan masjid, istana dan gedung-gedung (As-Sirjani,2013).
Di antara kemajuan dalam
bidang ini dapat dilihat pada dinding Qushir
Amrah, istana mungil Amrah. Bangunan ini merupakan istana musim panas yang
terletak di daerah pegunungan, sebelah Timur Laut Mati sekitar 50 mil dari kota
Amman, Yordania. Istana yang dibangun
oleh Khalifah al-Walid bin Adul Malik ini dirancang untuk tempat pada musim panas dan waktu berburu, sehingga
tempat tersebut sering disebut dengan istana berburu (As-Sirjani,2013).
c.
Seni Bangun atau Arsitektur
Para penguasa dinasti
Umayyah tidak hanya mampu menjalankan pemerintahan dan persoalan-persoalan
politik militer, mereka juga memiliki cita rasa seni yang tinggi, terutama cita
rasa dalam seni bangunan. Oleh karena itu banyak para penguasa dinasti Bani Umayyah mahir dalam seni
arsitektur. Mereka mencurahkan perhatian demi kemajuan bidang ini. Di antara
hasil kreatifitas sebagai bentuk perwujudan seni rupa itu adalah berdirinya
sejumlah bangunan megah, misalnya, Masjid Bitul
Maqdis di Yerussalem, Palestina, terkenal dengan Kubbah al-Sakhra, yaitu kubah batu yang didirikan pada masa pemerintahan
Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 691 M. Bangunan itu merupakan salah
satu peninggalan terindah dari masa kejayaan dinasti Bani Umayyah. Bangunan
masjid tersebut merupakan bangunan masjid yang ditutup atapnya d engan kubah.
Selain itu, Abdul Malik juga membangun Masjid al-Aqsa yang tidak kalah tinggi nilai seni arsitekturnya. Dengan
gaya arsitektur tinggi juga terdapat di Damaskus yang dibangun oleh al-Walid
bin Abdul Aziz sebagai masjid istana. Ruangan masjid
ini dihiasi berbagai ornamen yang terbuat dari batu pualam (marmer) dengan bentuk mosaik yang indah (As-Sirjani,2013).
E.
Peninggalan
Sejarah Daulah Umayyah
Banyak peninggalan
sejarah selama masa Daulah Umayyah di Spanyol. Pemerintahan ad-Dakhil sangat
memperhatikan kemajuan peradaban, seperti memperindah kota-kota di wilayah
kekuasaannya, membangun saluran air bersih di sekeliling ibu kota, membangun
villa Munyat ar-Rushafah meniru
istana Damaskus, membangun masjid Kordova, yang bertahan sampai sekarang dengan
nama populer La Mezquita. Selain
masjid, ia juga membangun jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir (Subchi,2006).
Andalusia, daerah
sebelah Selatan Spanyol, memiliki gedung-gedung luar biasa indah untuk
dikunjungi. Gedung-gedung cantik ini adalah perpaduan arsitektur Arab dan
Kristen yang kental. Maklumlah, Spanyol pernah berada di bawah ajaran Katolik,
kemudian dikuasai negeri Arab, hingga diambil alih lagi oleh Katolik. Karena itu di Andalusia akan banyak didapatkan
tempat-tempat istimewa mulai dari gereja, masjid sampai ke bekas benteng
pertahanan (Subchi,2006).
Katedral Aljama,
Cordoba termasuk salah satu bangunan yang paling memesona di Spanyol. Berbeda
dari gereja katedral pada umumnya, yang satu ini dibangun di dalam masjid. Bisa
dibayangkan betapa uniknya bangunan ini. Sejarahnya bermula pada tahun 785 M,
ketika Abdurrahman ad-Dakhil, raja Andalusia waktu itu, memproklamirkan
pembuatan masjid Aljama di lokasi gereja San Vicente. Ketika kekuatan region Andalusia terus menguat pada zaman
itu, masjid juga semakin diperluas. Awalnya Hisham I menambah kolam dan menara.
Kemudian 40 tahun kemudian Abdurrahman II memperluas masjid menjadi dua kali
lebih besar. Pada tahun 951, Abdurrahman III membentuk menara baru dan
meluaskan taman ke sebelah utara (Subchi,2006).
KESIMPULAN
- Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Kekhalifahan muawiyah diperoleh melalui kekerasan diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan suara terbanyak.
- Keberhasilan ekspansi bani Ummayah dibeberapa daerah, baik timur maupun barat, sangat luas meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Afganistan, Persia, Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis.
- Faktor yang menyebabkan lemahnya bani Umayyah yaitu
1)
Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru
bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak
jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan persaingan
yang tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.
2)
Latar belakang terbentuknya dinasti Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari
konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi’ah (para
pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka
maupun secara tersembunyi. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot
kekuatan pemerintah.
3)
Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia
Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman
sebelum Islam makin meruncing.
4)
Lemahnya pemerintahan daulat Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup
mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul
beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
5)
Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Bani Ummayah
atas munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd
Al-Muthallib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan
Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah
- Kemajuan yang dicapai adalah dibidang pendidikan dan pengetahuan serta kemajuan dalam bidang sosial budaya.
- Peninggalan sejarah daulah bani Umayyah
yaitu saluran air bersih disekeliling kota, membangun villa Munyat
ar-Rushafah, masjid Kordova, jembatan yang melintasi sungai Guadalquivir
danlain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim,Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam Dirasah
Islamiyah. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Subchi,Imam.
2006. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: PT. Listafariska Putra.
Tabel Masa Pemerintahan
|
Nama Khalifah
|
Masa Pemerintahan
|
|
Muawiyah ibn Abi Sufyan
|
661-681M
|
|
Yazid ibn Muawiyah
|
681-683M
|
|
Muawiyah ibn Yazid
|
683-684M
|
|
Marwan ibn Al-Hakam
|
684-685 M
|
|
Abdul Malik ibn Marwan
|
685-705 M
|
|
Al Walid ibn Abdul Malik
|
705-715 M
|
|
Sulaiman ibn Abdul Malik
|
715-717 M
|
|
Umar ibn Abdul Aziz
|
717-720 M
|
|
Yazid ibn Abdul Malik
|
720-724 M
|
|
Walid ibn Yazis
|
743-744 M
|
|
Yazid ibn Walid
|
744 M
|
|
Ibrahim ibn Malik
|
744 M
|
|
Marwan ibn Muhammad
|
745-750 M
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar